Dewi Lombok

Setahun sudah berlalu cerita indah Rinjani, tapi romantisme itu seakan kekal dalam memoar ingatan ku. Kembali lagi ku hadirkan manisnya tuturan mengenai Rinjani ini.

=======================================

Copy_of_dsc00415
Gunung Rinjani, padankan dengan seorang dewi. Mungkin akan serupa dengan paras cantik seorang dewi dan kerasnya pengorbanan untuk mendapatkannya. Lembutnya menyapa bak seorang putri menunggu di gerbang Istana menyambut.


Gunung Rinjani, merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia dengan ketinggian 3.726 Mdpl dan tipe hutan hujan pegunungan rendah. Berada di Nusa Tenggara Barat Terletak pada 8°18’ - 8°33’ LS, 116°18’ - 116°32’ BT. Luas dari Gunung Rinjani 41.330 hektar, dan dibawah tiga kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur. Curah hujan 2.000 mm/tahun. Gunung ini bisa dikatakan yang terbaik dari segi pemandangan dan jalurnya untuk pendakian, tak heran Rinjani menjadi favorit wisata dan pendakian baik itu untuk wisatawan lokal, mancanegara dan para pecinta alam.


Suhu rata-rata di Rinjani 20°C: terendah 12°C. Waktu-waktu terbaik untuk melakukan pendakian antara bulan Juni-Agustus. Pada bulan-bulan ini, pendakian akan baik dan tidak mengalami gangguan cuaca yang berarti. Kendala pada bulan ini, paling tidak adalah angin kencang dan perubahan musim dari hujan menjelang kemarau yag mengakibatkan suhu udara akan rendah.


Copy_of_dsc00377Jalur-jalur Rinjani tidaklah terlalu sulit kategorinya, bisa dikatakan ini merupakan gunung wisata yang menarik. Tantangannya terletak pada kesabaran, mental, dan fisik. Untuk kategori gunung tertinggi di Indonesia, jalur Rinjani mempunyai keunikan dan berbeda dari gunung-gunung di Indonesia. Medannya bisa dikatakan lengkap mulai dari sabana yang luas melewati punggungan bukit-bukit, bukit yang menanjak, jalur tanah pasir berdebu, pasir batu dan kerikil, bebatuan, dan hutan tropis yang panjang jalurnya. Untuk trek mendaki dan menurun, di Gunung Rinjani tidak ada bedanya. Ada dua titik untuk mendaki Gn. Rinjani, dari Sembalun Lawang dan desa Senaru. Sembalun Lawang berada pada ketinggian 1.200 mdpl, sedangkan desa Senaru 500 mdpl.


Untuk menghemat tenaga dan ingin langsung tracking menuju puncak lebih baik mulailah mendaki melalui jalur Sembalun Lawang, karena kita menghemat 700m ketinggian. Bila melakukan Start awal pendakian melalui Sembalun Lawang, kita akan menemui jalur sabana yang panjang mendatar. Dscn2096Sangat disarankan jalan pada sore hari, apabila dilakukan pada siang hari sinar matahari akan membakar kulit dan mempercepat proses dehidrasi. Jangan melakukan perjalanan malam, karena disini masih banyak jalur yang masih tertutup ilalang dan menyesatkan.  Dari Sembalun Lawang menuju Pos I berjarak 2 jam perjalanan, disini bisa dijadikan tempat rehat sementara karena jarak antara Pos I dan Pos II hanya berjarak 1,5 jam. Di Pos II ada sumber mata air dan shelter untuk berlindung dari malam. Dan disini sangat baik tempatnya untuk ngecamp, serta menyiapkan tenaga untuk perjalanan berikutnya. Dari Pos II-Pos III memakan waktu 1,5 jam. Hati-hati memasuki jalur setelah Pos III, karena ada jalur menipu untuk menuju ke bukit penyesalan. Ada dua potongan jalan yang menipu dari Pos III ini menuju Plawangan Sembalun. Jalan yang tampak melipir melalui punggungan bukit sangat menggoda untuk dilalui. Tapi itu hanya jebakan!, Jalur itu adalah bukit penyesalan. Sesuai dengan namanya penyesalan, kita pasti akan menyesal karena beda 2 jam dan medannya panjang. Lebih baik anda memilih jalur agak menurun ke kiri, anda akan berada pada jalur bukit penyiksaan. Hanya 3 punggungan bukit yaitu : Padebalung, Acong Nongak (anjing dongak), Cemara Siu. Lucunya setiap bukit kita seperti mengalami tiga level tahapan dalam mendaki.
Dscn2130Dari Pos III ini menuju Plawangan Sembalun menghabiskan 4 jam perjalanan. kita dipaksa untuk tracking menanjak.


Dscn2153 Plawangan Sembalun adalah tiga point terakhir sebelum anda "menyerang puncak", berada pada ketinggian 2.700 mdpl, sehingga cukuplah untuk mengistirahatkan tubuh anda sejenak. Dan sekitar pukul 2 atau 3 pagi, barulah kita bisa untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak.Jika melewati Senaru dikhawatirkan tenaga akan habis terkuras karena jalur disini naik-turun dan curam saat tiba di Plawangan Senaru menuju Segara Anak, belum lagi harus meniti pinggir danau, untuk menuju Plawangan Sembalun.


Dari Plawangan Sembalun, medan tanah merah dan berdebu. Hati-hati pada jalur ini karena medan yang akan dilalui licin dan akan mudah terjatuh. Titian pada saat 200 meter menjelang puncak, sangat menguras tenaga karena pasir dan kerikil yang gempur. Istilahnya 1: 1/2 langkah. Ada tips yang menarik untuk melewati medan seperti ini. injaklah pasir-pasir tersebut sehingga agak sedikit padat.


View Spot
di Puncak sangat menarik dan indah sehingga sayang dilewatkan untuk mengabadikannya. Kalau anda beruntung dan cuaca cerah, anda bisa melihat pemandangan Segara Anak bagian utaranya, di timur Sumbawa,Copy_of_dsc00482   ke arah barat akan terlihat gunung Agung, laut dan pulau Gili. Kawah yang luas di selatannya pun tidak kalah indahnya, tapi berhati-hatilah karena bagian puncak Rinjani sempit dan sebagiannya sudah longsor.


Setelah berlelah ria dari puncak, anda bisa mengistirahatkan fisik dan pikiran di danau Segara Anak. Di Segara Anak kita bisa memancing, masyarakat sekitar biasanya ada yang sengaja ingin menyempatkan dirinya memancing disini.Copy_of_dsc00431 Hanya berbekal joran dan tas daypack. Mereka menuju Segara Anak dan tinggal disana berhari-hari. Jadi jika anda ingin merasakan ikan segar, tidak usah malu-malu untuk memesan dengan para pemancing tersebut, kalau saja anda tidak membawa alat pancing disini. Ikan Mujair dan ikan Mas banyak  kita temukan di Danau Segara Anak. Pada setiap tahun masyarakat Hindu Bali dan suku Sasak sering mengadakan upacara adat di Segara Anak, konon banyak sesembahan dilarung di tengah danau. Menurut cerita Topan, salah satu guide Rinjani "pernah ada sesembahan yang dilarung ke tengah danau, kepala kerbau dihiasi oleh emas, sehingga ada yang sengaja mencari dan menyelam ke dalam danau Segara Anak". Mengapa dinamakan Segara Anak, karena luasnya danau dan airnya yang berwarna biru maka seperti anak lautan, dan itulah diartikan Segara Anak.


Danau Segara Anak juga mempunyai potensi wisata yang menarik lagi, yaitu pemandian air panas dan air terjun kokok putih, serta Gua Susu. Masyarakat sekitar juga sering memanfaatkan pemandian air panas dan Gua Susu ini sebagai pengobatan. Gua Susu adalah tipe gua sempit, mulut gua yang sempit dengan lebar 2x3 meter. Air panas yang mengalir di tepi-tepi dinding gua sehingga menghasilkan uap panas berbau belerang. Sehingga anda ingin bersauna gratis plus bertualang, maka jangan lewatkan kunjungan anda ke gua Susu. Untuk akses menuju gua Susu hanya 30 menit dari Segara Anak.


Selanjutnya dari Segara Anak, anda bisa langsung menuju Plawangan Senaru. Kalau anda masih ingat dengan gambar pada mata uang Rp. 10 ribu, Copy_of_dsc00460 maka anda akn menemukan angle yang pas untuk mengabadikan Segara Anak melalui Plawangan Senaru.


Untuk Anda yang ingin mendaki gunung Rinjani, tapi tanpa harus bersusah payah membawa beban banyak. Jangan khawatir, di sini banyak jasa untuk porter dan guide baik itu mendaki melalui jalur Sembalun Lawang maupun Desa Senaru. Untuk Jasa porter biasanya mereka mematok harga Rp. 60.000/hari. Dan jasa Guide Rp.100.000/hari. Untuk jasa porter, anda bisa mengandalkannya sebagai koki ulung, karena para porter biasanya tiba terlebih dahulu, dan tanpa diperintah maka tenda yang nyaman sudah berdiri menyambut anda diselingi pula oleh makanan hangat. Dan jangan heran dengabn ketahanan fisik para porter, mereka mampu membawa beban mencapai 35-40 kg. Bayangkan betapa gagahnya mereka menaiki jalur-jalur curam, tanpa kesulitan sekalipun.


Fauna untuk Rinjani masih banyak terdapat monyet dan babi hutan. Anda harus hati-hati untuk meninggalkan tenda anda, karena monyet bisa membuka paksa dan merobek tenda anda. Belum lagi babi hutan yang sering berkeliaran pada malam hari di Danau Segara Anak. Jadi anda harus menjaga tenda atau barang-barang pendakian anda.


Pada titik nol akhir dari pendakian, anda akan menemukan desa suku sasak yang terletak di Desa Senaru. Copy_of_dsc00491Selepas dari desa Senaru anda akan melewati berberapa pantai, pada saat menaiki kendaraan menuju Mataram dari Anyar, terminal terakhir. Anda bisa meminta untuk naik diatas kendaraan, tapi disarankan berhati-hati. Mengapa untuk naik diatas kendaraan, sangat disayangkan kalau anda lewatkan pemandangan Sunset dari Pantai Tanjung. Matahari seakan dihadapan anda, terpampang jelas diantara batas horizon cakrawala.


Rinjani patut rasanya jadikan salah satu pilihan anda, jika anda memiliki jiwa petualang, selesai anda menyelesaikan petualangan anda di Rinjani. Maka kota Lombok bisa anda jelajahi, karena pantai-pantai di Lombok kualitasnya masih bagus dan tidak kotor. Belum banyak tahunya orang mengenai keindahan Lombok, bisa dijadikan nilai positif dari menjaga kotornya pantai dan tempat wisata di sekitar Lombok yang rata-rata masih perawan, dan orang belum banyak tahu

                            

Sela Tawa Canda Kita

Dini_hari_yang_sepi Lambat laun NewsRoom ini menyepi dan lerung sunyinya diisi oleh spasial suara-suara dan warna wajah baru. Kawan itu sudah menentukan pilihannya masing-masing untuk penghidupan yang layak. yah diperlakukan selayaknya tanpa pertimbangan finansial dari tempat yang baru.

Aku semakin bertahan saja, meringkuk sunyi, dan mencuri ilmu. Padahal ku tahu waktu itu semakin memburu. Apa salah pikir ku, tak ada kawan bertimbang saran dan kritik. Semuanya hanya menanyakan kapan berpindah. Ah, penat aku dengan jawabanku yang selalu tidak sama satu dengan yang lainnya. Seberapa kuat aku menahan isu itu tidak keluar dengan bebas, tetap saja tembok disini berbicara.

Aku kehilangan sosok intelektual soliter, seniman, dan penganalogis yang kuat. Akhirnya ia mencapai hal yang sama sekali tidak terduga. Selamat kawan, kau kejar mimpi itu. Aku pun kehilangan sosok penceria studio, sepi suasana studio pada saat matahari menyongsong semburatnya yang mulia. Tak ada lagi kecerian studio karena lakunya sebagai tokoh waria, kesalahan bahasa yang tidak sengaja mengucapkan kata ini menjadi indang. "Saksikan tayangannya setelah pariwara berikut indang", yah itulah dari candaan akhirnya benar-benar mengudara nasional.

Dibalik keheningan itu ku coba bertahan sampai ilmu itu benar-benar ku rengkuh dan aku mampu bercinta di atasnya. Selama masih ada partner in crime ku untuk merokok, berbagi secangkir kopi, tawa canda, tempat berkeluh kesah, dan semangat memaki keberhasilan orang. Aku masih bertahan!.

Chairil Sang Legenda

Tulisan ini sebenarnya ingin ku buat pada tanggal 28 April 2008 waktu lalu, tapi tenaga dan pikiranku tersita banyak hal. Memang ada apa tanggal 28 April tersebut?.

======================================================

Indonesian_poet_chairil_anwar 59 tahun sudah Chairil Sang Legenda itu menjadi abu dalam pusara heningnya, ya dia adalah Chairil Anwar. Mungkin jasad sudah hilang, tapi rasa, semangat, dan api perjuangan sastranya terus berkibar di Indonesia. Pelopor angkatan 45 ini, adalah pendobrak sastra modern Indonesia. Lahir di Medan, 26 Juli 1922. Berdarah murni Minangkabau, yang kedua orang tuanya berasal dari Sumatra Barat.

Sumbangsih Chairil pada dunia sastra Indonesia sangat besar, tokoh yang besar setelah meninggal ini. Bukan sekedar pada dunia sastra saja, tapi Chairil membuat perubahan dan sumbangan yang memperkaya bahasa Indonesia,lewat karya sastrawinya yang jernih, spontan, dan modern. Chairil membuka mata dunia sastra Indonesia untuk ke depan. Bandingkan dengan Malaysia, yang pada penggunaan bahasa melayunya dengan kita sangat berbeda dan menempuh jalan masing-masing. Tidak bisa dipungkiri bahasa Indonesia modern saat ini adalah sumbangan kerja sastrawinya Chairil.

Sampai kini siapa yang tidak mengenal tokoh yang terkenal dengan potrait side lightnya yang memegang sebatang rokok ini.  Diam-diam pada hari kematiannya, para mahasiswa fakultas sastra memperingatinya sebagai "Hari Sastra Nasional". Dan apapun yang berhubungan dengan hari kematiannya, pasti tercetus pula semangat dari seorang Chairil untuk menjadi sebuah penggalan kalimat sastra pembangkit semangat. Itu pun dipakai untuk momentum seorang tokoh partai di Indonesia. Lalu apa yang menjadikan Chairil dirinya itu seorang legenda, padahal semasa hidupnya Chairil tidak sepopuler setelah ia kematiannya.

Padahal pada saat itu sedang terjadi jaman revolusioner baik di dunia maupun di Indonesia sendiri, dan Chairil pun tumbuh tidak di masa ruang hampa. Tapi mengapa ia menjadi tokoh yang populer, ini tidak terlepas karena jenis sastra yang Chairil pilah. Sastra ada dua bagian, yaitu Sastra Mimbar dan Sastra Kamar (Agus R. Sarjono). Pada Sastra Mimbar, cenderung pada tema zaman dan berisi akupublik (kehadiran tokoh yang cenderung tokoh hero) ke tengah latar yang secara sosiologis mencerminkan secara ekstrem tema-tema zaman tersebut dalam upaya memberikan jawaban atau tanggapan tema-tema bersangkutan.

Sedangkan Sastra Kamar sebaliknya, cenderung mengangkat dan menggarap tema-tema keseharian.Pada Sastra Kamar tokoh yang dihadirkan tidak meng-hero. Tokoh-tokoh yang hadir pun lazim kita temui dalam keseharian. Pada puisi, bukan akupublik, melainkan akulirik. Sementara pesan-pesan pun jika ada tidak merupakan jawaban sosial pada suatu tema zaman.

Sajak-sajaknya yang berjenis Sastra Mimbar seperti "Aku", "Diponegoro",  dan tentu saja "Karawang Bekasi" , inilah yang melambungkan nama Chairil Anwar.

"Sekali  berarti, sudah itu mati" (Diponegoro).

nukilan ini yang sering diteriakkan, sebagai kata pembangkit semangat sampai sekarang. Kalau saja Chairil bertahan dengan sastra yang berjenis Sastra Kamar, dipastikan namanya tidak akan meraksasa dan melegenda sampai sekarang.

Keunggulan lainnya adalah kemampuan penguasaan bahasanya Chairil, ia menguasai tiga bahasa, Jerman, Belanda, dan Inggris. Selain itu ia pun sebagai penggila buku yang maniak. Apabila buku itu bisa dicurinya maka Chairil akan melakukannya. Sebagaimana yang dituturkan oleh Asrul Sani, "Kau Perhatikan orang itu, Aku mau mengantungi Nietzsche ini". Chairil pun siap dengan celana yang yang mempunyai saku cukup besar untuk memuat buku tersebut.

Karena kemampuannya itu tersebut mampu menghantarkan Chairil pada karya-karya besar dunia, dan ia pun menerjemahkan dan menyadur karya tersebut kedalam karya-karyanya. Dari hasil karya-karyanya tersebut, cercaan dan kritik banyak dialamatkan kepadanya. Ia pun dituduh sebagai plagiator. Seperti hasil kerja sastranya yang berjudul "Karawang Bekasi", itu merupakan saduran sajak "The Young Dead Soldiers" Archibald MacLeish). Sampai seorang Soe Hoek Gie pun berpendapat Chairil adalah seorang penyadur dari karya-karya Andre Gide.

Keberuntungan Chairil adalah ditemukannya sajak Chairil oleh H.B. Jassin, yang tekun mengikuti proses penciptaan Chairil Anwar. Gaya hidup bohemia Chairil pun jadi salah satu faktor mengapa Chairil yang memilih bertahan pada dunia sastra ini menjadi contoh gambaran mutlak seorang penyair legenda dan tetap konsisten di jalurnya.

Apapun itu cercaan, makian dan tuduhan negatif  pada hasil kerja sastranya itu, Chairil tidak bergeming di atas namannya yang terlanjur melegenda. Penyair muda pun seakan tenggelam pasca kematiaannya, belum ada yang mampu melegenda namanya, tertutup oleh kepopulerannya. Walaupun seorang besar W>S Rendra, hadir sebegai penghapus dahaga sastra Indonesia, namun si burung merak ini belum mampu menggantikan kelegendaan Chairil. Padahal Rendra banyak hadir dalam puisi, sajak yang berjenis Sastra Mimbar.

Dibalik dunia kesastraannya, Chairil pun hadir pula dalam dunia-dunia romansanya. Beberapa nama perempuan pun hadir dalam prosa, dan sajak-sajaknya. Ia pun sempat menikahi salah satu hasil kerja sastranya, yaitu Hapsah Wiriaredja. Tetapi pernikahan itu tidak bertahan lama, karena gaya hidup Chairil dan kesulitan ekonomi.

Pernikahan itu menghasilkan buah cinta seorang anak perempuan, Evawani Alissa Chairil Anwar. Eva ditinggalkan Chairil pada usia yang sangat belia, setahun 10 bulan. Dan perceraian orang tuanya terjadi ketika Eva berumur tujuh bulan. Keluarga Eva sangat menjaga perasaan Eva tentang siapa ayahnya. Ketakutan itu terjadi karena Eva mempunyai ayah tiri. Eva mengenal ayahnya ketika duduk di kelas tiga Sekolah Rakyat. Guru kelasnya lah yang menunjukkan buku H.B.Jassin, yang ada foto dirinya dibuku tersebut, setelah ada foto Chairil. Eva pun jauh melenceng dari dunia yang ayahnya geluti, dia seorang notaris.

Chairl pun menyadari dan sudah mempersiapkan kelegendaannya dari dulu, dia pun berpesan pada istrinya kelak kalau umurnya panjang ia akan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Tetapi kalau umurnya pendek, anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburku menabur bunga.

Menjelang kematiaanya ia pun menyiapkan tempat pemakamannya melalui puisinya: di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru angin.

Dengan mewariskan 70 puisi asli, 4 puisi  saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli dan 4 prosa saduran, yang memang tidak terlalu besar bilangannya pada dunia sastra. Namun sumbangsih Chairil sebagai tokoh pendobrak kesastraan yang berpetatah-petitih pada erannya Sutan Takdir Alisjahbana (STA), sangatlah besar. Orang yang teguh berpendirian, mahluk soliter didunianya. Chairil mampu berpegang teguh pada kesusastraannya, walaupun dirinya menderita dibalik penyakit TBC kronisnya dan kesulitan ekonomi.


"kami sekarang mayat

Berilah kami arti

Berjagalah  terus di garis batas pernyataan dan impian"

Chairil_anwar_5165a                                                                                                                                     


1922-1949

May DAY

Selamat Hari Buruh Internasional

Apa yang harus diperjuangkan?, tanda tanya besar buat para pekerja.
Seperti biasa...siapa yang mewartakan pekerja media?

Cool Story: gua, motor gua dan wanita2 di sekliling kita

Ini ada cerita yang menarik, kalo sudah ada yang pernah dapet yah silahkan membacanya lagi, tapi kalo yang belum, ini lumayan buat refreshing.
Ini kisah paling menyentuh bagi para bikers. Tentunya kita para pengguna sepeda motor pernah mengalaminya...Selamat menikmati

==========================================


Tuesday, December 19, 2006

 
Oleh: Aditya Mulya
  Pengarang "Jomblo" & Redaktur Kepala "Cosmo Men"
      

Jaman kuliah dulu, gue naik motor. Setidaknya di ITB, motor adalah faktor yang menseparasi pria dari...uhm.. .pria lain. Intinya, setidaknya, tahun 96, cowok yang punya motor di ITB (lumayan) jadi dambaan wanita.
 
Sayangnya yang kerap menjadi dambaan adalah motornya karena motor ini menjadi alat bagi cewek-cewek itb untuk nebeng dan minta anter. Pemilik motornya sendiri tetap tidak mengalami perbaikan kasta atau nasib dalam asmara .
 
Singkatnya, kita-kita di sipil96 yang punya motor sering diminta cewek-cewek untk minta anter mereka. dan berhubung cewek sipil hany 20 dari 160 populasi, jelas segala permintaan mereka kita penuhi.
 
  "Dit, gue nebeng!"
  "Oke!"
di mana kata nebeng itu tertukar dengan wording 'minta anter' karena definisi nebeng adalah sejalan arah kos gue DAN BUKAN nun jauh di pinggiran Bandung .
 
  "Dit, anterin gue ke rumah sakit!"
  "Beres!"
  Meski pun penyakitnya menular dan seperti dia, gue ikutan meriang 3 hari.
 
  "Dit, jemput ade gue di SMP!"
  "Jam berapa?"
  Di mana sesampainya di SMP itu, gue baru nyadar gue belum tahu tampang itu anak  kek gimana.
 
But all in all, kita sayang sama cewek-cewek sipil ini dan tidak pernah ada kata tidak untuk melayani mereka. Tapi tetep aja entah kenapa gue selalu kena kasus. berikut adalah kasus-kasus yang paling parah yang gue pernah alami.
 
  Dengan Wiwin

 
Kita sebut saja namanya Wiwin karena kalo sampe ketauan nama aslinya dalam blog ini, riwayat gua bisa tamat. Wiwin adalah wanita berkacamata tebal dengan otak yang lebih tebal lagi. IPKnya terancam 4. Wiwin adalah juga atlet yang tergabung dalam pelatda voli JABAR. Dia punya tangan yang cukup kuat untuk serve voli...dan kalo nampar cowok, itu cowok bisa melintir. Gua suka boncengin dia pulang karena dengan begini gue bisa nodongin dia dengan,
  "Eh Win, adit sekalian fotokopi catetan Wiwin yah."
Wiwin secara reluktan mengiyakannya dengan syarat, dalam proses fotokopi itu, dia ikut sama gue nongkrongin tukang fotokopian dan sang catetan selalu ada dalam jarak pandang dia. Ini adalah hikmah dari pengalaman buruk di mana catetan dia dipinjem gak jelas berpindah seribu tangan dan saking putus asa nyari, dia harus belajar dari fotokopian catetan dia sendiri. Bagi gue, berdiri samping-sampingan dengan Wiwin di toko fotokopian adalah situasi yang awkward. Gimana gak awkward? Apa sih topik yang bisa lu omongin sama cewek, kalo di depan lo ada orang minang keringetan gak pake baju megang-megang mesin fotokopian?
 
Anyways di suatu hari yang windy (faktor angin  memegang peranan penting dalam plot cerita ini) gua nganter Wiwin pulang. karena banyak angin, suara yang keluar dari mulut gua selalu  terbawa angin.
  "Win gue motokopi catetan ya!"
  "Apa?"
  "Gue minjem catetan lo!"
  "Hah?"
  "GUA MINJEM CATETAN LOOOO!!"
  "ADUH NGOMONG YANG JELAS KEK!"
Halah! Emang sih gue kan ngomong sambil merhatiin jalan jadi mulut gue ke depan dan gak ke muka dia yang di leher gue. Akhirnya gua balik badan dan bilang lagi. Sayangnya, entah kenapa gua lagi memproduksi banyak air liur di saat itu. Sayangnya lagi, ini terjadi di saat angin bertiup kencang. Sooooo gue balik badan, buka mulut lebar-lebar dan..
  "GUE MINJE..PLUEEHHH. ...."
 
  crooot
 
Angin mengantarkan saliva gue ke kacamata wiwin. Itu gak terlalu wiwin masalahin karena SEBAGIAN BESAR liurnya kena ke sisa muka yang kacamata gak cover.
 
  She never spoke ever since.
 
  Dengan Titin

 
Lagi-lagi nama samaran. Titin ini rada ganjen. Kalo ke kondangan dia selalu nyalon. Entah kesamber jin apa, suatu hari dia minta anter gue ke salon dan ke kondangan setelah dari salon. biar efisien, tuturnya.
 
ya sudah gua turuti itu kemauan. Setelah berkarat nungguin di salon, dia muncul dengan sanggul yang indah menawan. gua rasa kalo orang lempar jeruk ke sanggul itu, bisa nyangkut.
  "Gimana, cakep gak?"
  "Mirip roro kidul Tin."
  "Monyet. Udah buruan ke resepsi! yang cepet ya!"
gua udah kek budak aja. di sini terjadi sesuatu yang Titin gak pernh maafin gua sape sekarang, meski kalo gue bilang, itu salah dia.
  dia kos di simpang ( bandung  utara).
  Nyalonnya di simpang.
  Undangannya di gedung kartini ( bandung selatan)
  dia minta cepet.
 
  Ya udah, gue ngebut dong!
Sayangnya ini berbuntut di mana kita pergi dengan Titin tampak seperti finalis putri indonesia dan sampai di resepsi terlihat seperti singa.
 
  "ADUH RAMBUT GUE! ELU SIH DIT!"
  "Makanya gua bilang PAKE helm!"
  "gua kira kalo helm, sanggulnya rusak, jadi jelek!."
  "gak pake helm jadi singa. Tuh."
  "Benci gua sama elu! Benci! Benciiiiiiiiiiiiiii i!!"
 
  Dengan Mimin

 
Untuk, lagi, alasan keselamatan, gua gak akan mereveal nama dia. Suatu hari gua sekelompok sama dia dan kita harus ngerjain paper nih ceritanya. Singkat cerita, anggota lain pada egois dan gak kerja. Cuman gua dan Mimin aja yang ngerjain di rumah dia di bilangan kuburan Ciputra. paper selesai dan 10 menit  lagi kuliah paper itu dikumpulin.
  "DIT! AYO KITA CEPETAN!"
  "AYO!"
  "NGEBUT YA!"
  "LU PEGANGAN MA GUA!"
  "NAJIS!" (Cewek-cewek sipil ini selalu teguh menjaga iman mereka).
 
Adalah kebiasaan mereka untuk memegang handle di belakang ketimbang melingkarkan tangannya di supir. Tapi yo wis , gue juga gak keberatan. Pasaran gue juga bisa turun. Akhirnya gua ngebut! tapi tertahan di lampu merah kuburan. Percakapan di bawah terjadi dengan mata gua liat ke depan dan hanya denger suara dia.
"Min, kita harus bener-bener ngebut nih. tau sendiri Bandung .  Sekali kena merah, sampe 5 lampu ke depan kena merah juga."
  "Ya udah ngebut! Eh bentar tas gua jatoh."
  "Udah Min?"
  "Bentar."
  "Ijo Min!"
  "Nah, ...."
  "OKE!"
  Gua langsung kebut itu motor!
  Gue salip semua mobil di pasar suci!
  Gua ngesot di tikungan telkom!!
  Gue jemping depan UNPAD!
  Gue terabas lampu merah simpang dago!!
  Gue turun kek orang gila sepanjang dago!!
  Gue ampir nabrak kuda di ganesa!
  Akhirnya masuk juga parkiran sipil.
 
  Abis ngerem, gue bilang,
  "Gimana motoran sama James Bond? Min? Min?"
  gue ngeliat ke belakang dan Mimin lenyap.
 
  Keesokan harinya, di rumah sakit boromeus...
  "Gua gak ngerti Min.."
"Lu gak ngerti bagian mana dit? bagian yang elu ngajleng dengan gua baru setengah pantat? ato bagian gue ngegelinding di perapatan jalan?" tukasnya jutek dengan tangan yang retak.
  "Tapi kan  gua udah bilang ijo! dan lu udah bilang 'NAH'!'
  "NAH itu maksud gue baru mau duduk lagi."
  "tapi kan !"
  "Sudah lah! gua bingung manusia kek lo bisa masuk itb."
  Wah, kecerdasan dia bawa-bawa. padahal kalo mau cerdas dikit, dia megang gue.
 
Itulah sekelumit cerita gua, motor gua, dan wanita-wanita yang ngegelinding karena motor itu. Yang jelas sejak itu demand menurun drastis. Imbasnya adalah bahwa Oyep, temen gue, menjadi idola ke 20 anak itu untuk dianter ke mana-mana. berkorelasi dengan itu, IPK gue menurun dan IPK Oyep naik secara fantastis. Oh nasib.

"A BETTER FUTURE"

Tawa anak-anak itu pecah, mereka berkumpul dan mereka berebutan jatuh kedalam lumpur, tergulung ombak, mendirikan tenda untuk tempat berteduh, dan berlati olah vokal di taman. Tak takut terik mentari menyengat, hanya keriangan memecah kebuntuan beban hidup kita melihat geliat mereka yang tanpa beban itu.

Beberapa aku melihat liputan tentang kegiatan anak-anak. Sungguh menyenangkan melihat tubuh-tubuh kecil itu loncat keriangan bermain lumpur, berdiri congkak mengendalikan papan seluncur agar stabil diatas ombak, berlari dan melompat masuk ke dalam tenda kemah mereka, dan berlatih olah vokal untuk teater kecil mereka.

Kita tentu mereka-reka akan menjadi manusia seperti apa mereka 10-15 tahun lagi. Mungkin mereka akan melebihi kemampuan dan ilmu kita, atau meratap sedih menjadi pecundang.

Menurutku inilah potret mendatang wajah negeri kita, mereka lah pemilik ranah republik ini sepenuhnya. Jangan halangi mimpi mereka dengan gizi buruk, biaya pendidikan yang selangit, orang tua yang mendadak gila akut kerena memikirkan beban hidup yang berat, sehingga anak-anak ini menjadi korbannya.

Beberapa kali mata ku berkaca bahagia dan haru, mendengar mereka bangga akan profesi sang ayah yang hanya seorang juru parkir, ataupun supir angkutan umum kota (angkot). "Akbar bapaknya kerja apaan?", ibu Leli pemilik TK Pelangi ini mencoba memberi kami (kru liputan Lintas Siang) kemudahan awal pembicaraan dengan salah satu anak murid TK Pelangi. "Supir", jawab akbar singkat saja tapi tidak ada rasa malu. Aku merasa bangga meendengar Akbar yang tanpa rasa malu menjelaskan profesi ayahnya. Ya, kalian tidak boleh malu, karena ayah mu sedang berjuang 'dik.

Lain pula dengan sekolah akting yang diprakarsai oleh artis senior Yessy Gusman. Anak-anak ini berlatih serius membacakan puisi dan menyanyikan lagi tentang pentingnya membaca. Tak ada sedikitpun niatan mereka ingin menjadi artis, mereka tulus demi sebuah seni dan kecintaan mereka.

Atau menahan rasa malu ketika anak-anak berusia 10 tahun hingga 15 tahun, mempermalukan aku ditengah ganasnya ombak pantai Pelabuan Ratu. Mereka terkekeh-kekeh melihat kami (kru liputan Lintas Pagi Akhir Pekan) berusaha keras berdiri diatas papan seluncur. Selesai meliput mereka berlatih, kami pun ingin mencoba salah satu olahraga ektrim ini. Sepertinya tampak mudah, dan ombaknya tidak menyulitkan. Tidak seperti video-video surfing diluar negeri, yang ombaknya mencapai 7 meter sampai 10 meteran. Kami pun turun menuju mandala perang tersebut. Alamak, kami seperti orang jompo yang tidak mampu berdiri. Alih-alih kami jadi sasaran empuk gelombang yang menggulung. Memang dari bibir pantai sepertinya ombak tidak besar, tapi coba kalau anda masuk dalam area 15 meteran dari bibir pantai. Ombak tersebut menutup pandangan anda ke depan, dan tampak besar.

Hampir saja aku menjadi korban keganasan ombak Pelabuan Ratu yang ke tujuh , karena sehari sebelumnya enam karyawan PT. Suzuki terseret ombak Pelabuan Ratu. Aku masih penasaran karena sudah setengah jam berlalu, tapi masih tidak mampu bertahan lama berdiri di papan seluncur. Mendengar penjelasan dari instrukturnya, penyebab kegagaln kami semua adalah pemilihan papan seluncur. Aku tetap berpegangan teguh dengan panji-panji keyakinanku (halah!..mulai ngaco kalimatnya...hahaha), bahwa aku bisa berdiri. Matahari mulai beringsut hilang dari ujung horizon. Sayup-sayup suara orang mengaji keluar dari pengeras suara masjid, tanda sebentar lagi maghrib. Hal yang sangat dihindari untuk orang melakukan aktivitas pada saat maghrib. Teman-teman tim liputan sudah berjalan menuju pantai dan menyudahi permainannya. Tinggal aku seorang diri, ku lihat gejala tidak normal dari arah ombak. Aliran dan arah ombak semakin berbelok, aku pun bersiap mencari ombak besar. Yup, itu dia ombaknya. Papan ku rebahkan, aku pun meluncur. TAPI!!!, aku tidak bergerak ke depan.

Panik bukan kepalang, aku pun teringat kata-kata instruktur surfing, bahwa diantara  ombak ada semacam daerah yang pecah. Fungsinya adalah aliran ombak yang mengarah ke bibir pantai, maka ombak akan berbalik ke belakang dan daerah tersebut relatif tenang riaknya. Itulah yang bisa menyeret benda-benda yang mengapung. Dan seretan aliran tersebut bisa sepanjang 50 meter ke dalam laut. Andalan ku saat itu adalah papan yang ku naiki. Aku berusaha turun dari papan, dan menahan dengan kaki ku. Ku jejakkan kai ku ke dalam pasir sekuat-kuatnya. Bukan semakin mantab menahan seretan ombak. Tapi kaki ku semakin tenggelam ke dalam pasir. Pasir ini mirip lumpur hidup, semakin mencekam saja keadaanku. Tiba-tiba ombak berikutnya datang, dan itulah yang menyelamatkan ku. Aku terlepas dan dapat berjalan kembali menuju bibir pantai.

Salah satu teman kru memanggil dan menyuruhku menyudahi permainan berbahaya ku. Adzan maghrib terlantun damai beserta angin pantai, hati ku mulai tenang pasca tragedi yang disebabkan sikap gegabah ku. Hampir saja kejadian konyol itu terulang lagi. Dulu waktu kecil pun aku hampir tenggelam di Pelabuan Ratu akibat salah pengertian adu berenang di lautan. Untung saja nasib baik masih berpihak, aku terdorong ombak besar yang menuju bibir pantai, dan selamatlah aku.

Aku pun menceritakan kejadian konyol tersebut, teman-teman tertawa mendengar penjelasanku dan sambil menatap heran, bahwa aku masih ada di depan mereka. Sial benar mereka itu.

Yang terakhir adalah ketika melihat kelompok anak-anak sekolah dasar berwisata alam. Kegiatan dimulai dengan menanam padi, dilanjutkan menangkap ikan, memandikan kerbau, melukis camping,  terakhir melihat perkebunan dan berkeling melihat taman menggunakan kerete mini.

Anak-anak tampak riang bermain dilumpur, mungkin bau lumpur sawah sudah tidak pernah dicium oleh anak-anak sekarang. Pada waktu kecil, aku sering kali menjumpai persawahan. Maklum saja dulu Bekasi banyak sekali sawahnya, jadi hal yang berbau lumpur baik itu aroma dan tempatnya sudah tidak asing. Tapi bagi mereka ini hal baru. Nikmati saja 'dik, karena kamu makan dari tempat yang seperti itu. Terus injak lumpur itu sampai dalam, gemburkan. Cacing tidak akan mengotori kakimu.

Yang lucu adalah mereka tidak tahu kotor dan jijik ketika memandikan kerbau, sibuk sendiri dengan sibakan air ke badan kerbau, menyorongkan mukanya ke pancuran air yang hasil dari air kolam kerbau tersebut. Aku hanya menggelengkan kepala dan tertawa renyah melihat tingkah polah mereka. Padahal dari tadi ku lihat si kerbau membuang air seninya terus. Anak-anak itu mungkin meminum sedikit air tersebut...hahaha.

Itulah dunia anak-anak yang polos, menyejukan, masih banyak mimpi yang bisa mereka raih. Hanya tinggal memolesnya, jadilah mereka berlian dan mutiara-mutiara bersinar.



                                  "A Better Future"
                    The people of Jakarta seeking a BETTER FUTURE
                  To help them achieve that BETTER FUTURE we have
                       Established an informal pre-school for children
                                               From poor families.
                       This school is not profit and relies an donations
                                               From its supporters.
                      We thank you for your support of this worthwhile
                                                         activity

Itu sedikit prakata yang ku ambil dari TK Pelangi...sebuah tempat yang dilandasi oleh ketulusan dan niat baik. Tanpa dipungut bayaran, tapi mampu berdiri mandiri, hanya untuk mereka yang hilang kesempatan memperoleh pendidikan, yang lagi-lagi alasan mendasar...MAHALNYA DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA!

Haruskah?

iya...haruskah mereka menangis tersedu sedan karena tidak bisa menjadi idola. Hanya karena sakit lalu menjadi parau suaranya, dan tereliminasi karena kemampuan menyanyi buruk ketika menyanyikan beberapa lagu dari band Ungu, Rossa, Ari Lasso, Sheila On 7, PeterPan. Atau pula dengan kelakuan wannabe rock stars mereka, memakai kacamata ala Ian Kasela, rantai pengikat, dan rambut ala monas, mereka terlihat sedang menipu diri sendiri menjadi orang lain dan melompat melewati sebuah proses kehidupan yang jauh dari apa yang mereka belum melewatinya.

Ironis dan betapa teganya kita tertawa melihat mereka seperti itu. Kejahatan apa yang sedang kita perbuat terhadap generasi cilik ini. Kita mengkarbit mereka dengan cinta-cinta muluk lampiran tiap lirik lagu. Kemana kita akhir pekan...yah, "naik delman disamping pak kusir yang sedang bekerja saja"...atau, "naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali"...kamu punya binatang peliharaan?, kamu kasih nama siapa?. namanya Helli..guk-guk, si anjing menyalak girang.

Lagu-lagu indah berirama riang itu yang mengiringi kepolosan kita pada masa lalu, sampai kini dan begitu dekat dengan dunia kanak kita. Lirik polos yang selalu ada dibenak kekanak-kanakan kita, yang selalu ingin tahu isi dunia ini, yang selalu ingin bermain selama mungkin lalu menggali sesuatu karena sifat kanak kita yang polos. Tapi kemana semua, berganti dengan..."wo'o, kamu ketahuan...pacaran lagi".

Bukan ingin langsung menunjuk jari telunjuk ini dengan telak ke sebuah program acara televisi, tapi itulah yang nyata saat ini. Tidak hanya satu, tapi sudah ada beberapa. salah satunya yang sedang meroket acaranya adalah IDOLA CILIK. Jingkrak, lenggak-lenggok, teriak mereka, seperti buah yang matang sebelum waktunya. Tertawa, sedih, dan harap cemas orang tua melihat tingkah polah mereka sedang berada dipanggung, takut tereliminasi karena lagu cinta orang dewasa. Sang juri siap memberi komentar pedas nan menghibur pemirsa, lalu memberi petuah-petuah if he/she wannabe being the real idol. Penonton yang notabene baru pulang sekolah, langsung pindahkan channel TV nya atau langsung menonton di studio.

Seperti apa kita yang menonton acara seperti ini, haruskah kita bersimpati dan berempati karena menyoroti kekalahan mereka. Bukan itu kawan yang harus kita buat, tapi kita harus prihatin dengan para buah yang matang sebelum waktunya. Tidakkah kita bersedih dan merasa terpuruk hati kita. Lalu lunglai lemas tidak bisa menyelamatkan mereka berpolah layak idola dewasa mereka, mereka hilang akan identitas, mereka dihapuskan jiwanya hanya karena keuntungan. Kusut masai sudah seperti ini, menjadi buntelan benang kusut yang menggelinding liar yang arahnya terjun bebas dari sebuah meja apik.

Lalu apa kata pembuat program dan yang diuntungkan dari acara ini, biasanya pihak televisi. Lagi-lagi dengan ceracaunya..."kalau tidak suka dengan acaranya, ya tinggal ganti channelnya saja". Hah, keparat macam apa yang seenaknya bisa berkata seperti itu. Kau ini sedang mencetak apa?!.

Apa yang dibenak para idola cilik ini membayangkan..."Biarlah ku rela melepas mu, meninggalkan aku...", "Otak mu seksi, itu terbukti dari caramu memikirkan aku", atau "cuma kamu yang bisa membuat ku menjerit ".Kita membunuh jiwa mereka. Haruskah mereka dicium bibir, pipinya terlebih dahulu. Atau yang lebih ekstrim kita mendidik mereka untuk berpacara sebelum usianya. Maka kita memasukkan unsur seks dalam kehdupan mereka tanpa disadari oleh kita. Bisakah kita menyebut ini juga bahaya laten, lebih parah dari penghapusan sejarah, dan pembakaran buku-buku yang dilakukan beberapa rezim orde di republik keparat ini. Dimana nurani kita melihat itu!. Hentikan atau kita melahirkan para monster-monster kecil.

Apa yang di benak kita?

Dilarang sakit yang miskin!

Ini cerita yang tertunda...

=====================================

Dilarang sakit yang miskin!

Potret sedih bila menjadi orang miskin di Indonesia, serba dilematis dalam mempertahankan hidup ditengah kurangnya gizi dan makanan yang sehat. Apabila sudah sakit, maka sebuah kesulitan akan datang lagi. Apa itu?, ya masalah itu adalah uang untuk pendaftaran dan menebus obat.

Berapa orang yang kekurangan itu harus kembali kerumah dan menahan rasa sakit yang mendera tubuh karena ditolak oleh pihak rumah sakit yang disebabkan kurang biaya untuk pendaftaran. jadi orang susah saja sulit, apalagi jadi orang kaya. DASAR REPUBLIK LAKNAT!, semuanya sudah uang yang berbicara, tidak ada sedikit pun rasa manusiawinya.

Tak habis pikir sudah ku melihat kejadian, laporan, dan fenomena susahnya jadi orang miskin yang sakit di republik ini. Pemerintah berusaha elok dalam membuat peraturan, kebijakan, dan perundangan agar baik di mata rakyat. Tapi tidak sampai semuanya berjalan sesuai pelaksanaan dilapangan. Yang tak punya uang dipaksa sehat selalu dan senyum selalu menantang hari demi hari.

Ini semua berkaitan dengan kejadian yang baru aku alami hari ini. Tak tahan dengan iritasi oleh jamur keparat itu, segera saja aku untuk konsultasi ke dokter kulit dan minta resep paling mujarab buat si jamur keparat. Bukan main harga yang perlu ku tebus, 400 ribuan. WOW! hanya untuk si jamur aku harus sisihkan uang sebanyak itu. Dulu aku terbiasa dengan layanan gratis yang ku peroleh dari kantor ayah ku, maklum saja ayah salah satu pegawai BUMN. Aku pun berpikir, untung saja ayah aku beruntung bekerja di tempat yang memperdulikan kesejahteraan karyawannya, kalau tidak aku beserta 2 saudara kandungku sudah merepotkan kedua orang tuaku terutama ayah ku sang kepala keluarga.

Dan sekarang aku harus membiayai semua yang berkaitan dengan hajat ku sendiri. Masih saja berbicara untung, aku berpikir pastinya aku masih beruntung mempunyai pekerjaan. Kalau tidak aku pasti merepotkan orang tua ku, karena jatah gratis dari kantor ayahku sudah tidak bisa dipergunakan lagi.

Sudah banyak cerita miris dari REPUBLIK LAKNAT ini, mengenai penderitaan rakyat kecil, terutama yang berpenghasilan minim. Tentunya ini akan menjadi beban hidup tambahan lagi, apabila ia atau ada keluarganya yang sakit. Apalagi ditambah dengan rawat inap. Tidak heran apabila kita melihat potret dan potrait muka-muka lusuh, pucat tanpa harapan menahan sakit yang teramat mendera tubuh, karena tidak kuat menahan derita sakit di tubuhnya.

Aku punya cerita ketika mengantarkan pasien ibu ku yang mengalami pendarahan hebat ketika ingin melahirkan. Laju kendaraan ku percepat agar sang ibu dan putra harapan mereka baik-baik, tidak mengalami kejadian tragis. Mobil ku terhambat oleh padatnya lalulintas perlintasan kereta api. Aku pun terbawa suasana kalut mendengar sang ibu meraung-raung menahan sakitnya pendarahan. Sebentar-sebentar sang ibu pingsan, kami berusaha untuk selalu membuat sadar sang ibu. Sampai lah aku di rumah sakit, segeralah pihak keluarga mengurus administrasi, tapi pihak keluarga segera membatalkan pengurusan admistrasi rumah sakit. "Biayanya 14 juta bu, jadi harus dibayar dimuka 7 juta dulu", jawab Suster. Alamak, keburu mati kering jasad ibu muda tersebut, segera saja mengambil gerakan super sebat, pihak keluarga mencari rumah sakit yang lebih ramah.

Aku pun terpaksa harus kembali ke jalan yang ramai, memotong jalur tanpa lihat kanan-kiri lagi, demi sebuah harapan keluarga kecil bahagia. Perjuangan sang ibu tidak sia-sia, ada juga rumah sakit yang berharga manusiawi. Sampai kapan cerita ini harus terulang, atau ini proses genosida massal yang dilakukan oleh penampuk kekuasaan, demi memperingan beban sosial negeri ini.

Mungkin orang yang berlimpah tidak perlu sulit lagi menentukan mau di opname di kelas satu atau kelas kambing yang toiletnya berbau anyir campur-aduk beragam penyakit di dalamnya. Sedangkan yang tidak berkecukupan, harus berpikir untuk melupakan sakit mereka demi mencari uang demi hidup untuk hari ini saja sudah cukup.

Lagi-lagi aku masih di pihak yang beruntung...

Penyakit Lokalan!

Penyakit tradisional yang memuakkan!!!
Kutu air...bah, penyakit macam apa itu. Seumur-umur yang ku tahu tentang kutu air adalah salah satu pakan ikan. Apalagi pada saat meroketnya pamor ikan Cupang sebagai aduan. Binatang ini yang dicari-cari sebagai pakan yang terbaik untuk ikan ini.

Tapi penyakitnya belum pernah aku mencicipinya. Padahal setiap mengambil kutu air, aku berusaha menghindarinya. Tapi mengapa sekarang aku terkena penyakit itu. Sungguh menyiksa, gatal bukan alang-kepalang, pedih karena kulitnya menjadi rentan gesekan, dan kulit terkelupas. Dan baru ku ketahui pula bahwa itu bukan disebabkan oleh binatang air atau semacamnya, tetapi dikarenakan jamur.

Macam-macam penyebab timbulnya jamur, karena lembab menjadi faktor utama timbulnya jamur. Untuk negara yang beriklim tropis seperti Indonesia ini, jamur lebih mudah menjangkiti kulit orang indonesia pada umumnya karena tingkat kelembabanya lebih tinggi.

Aku sempat bingung kenapa ini semakin menyiksa, semua pengobatan dari salep, antobiotik, sampai antiseptic ku coba. Sampai-sampai punya pikiran membakar itu kaki (ekstrim banget yah...hahaha). Sepertinya aku harus konsultasi dengan dokter kulit. Aku pun mencari-cari penyebab aku sampai terkena penyakit kutu air (lokal banget ga sih penyakitnya). Ada kemungkinan aku terkena pada waktu mengikuti liputan banjir, aku tidak mencuci kaki lagi, lantas langsung memakai sepatu. Ada pula karena terlalu sering bermandikan hujan sepanjang hari ketika menuju kantor, sehingga sepatu ku lembab selalu. Dan ada pula ketika pendakian, sering kena hujan juga. Apalagi saat pendakian, sangat jarang sekali aku melepas sepatu karena perasaan yang serba tidak praktis dan kepalang tanggung menikmati perjalanan. 

Padahal itu semua rentan dengan jamur, dan aku pun sadar penuh kulitku ini sangat sensitif dengan air kotor (bangsawan banget nggak sih...hehehe). Aku mengacuhkan itu semua atas nama menguji kekebalan tubuh...HALAH!.

sebelum semua kalian mengalami kejadian seperti ku, kini ku beri tips untuk mencegahnya kawan. Karena sekarang ini musim hujan terus, kita sebaiknya berjaga-jaga dan waspada terhadap banjir agar kita tidak tenggelam bersama rumah kita...jadi nggak nyambung neh!halah...lanjut.

  1. Menjaga kaki dan sela kaki selalu kering
  2. Gunakan selalu sandal saat di kamar mandi umum, kolam renang, dll
  3. Selalu mengganti kaos kaki dan pacar (kenapa pacar, karena itu juga bikin lembab...hahaha)
  4. Gunakan sepatu yang aliran udaranya baik, dan punya sepatu lebih dari satu itu lebih baik, karena dapat digunakan bergantian. Dan proses kering dari tiap sepatu itu lebih baik.
  5. Gunakan selalu obat anti jamur dan anti miskin, dan bedak apabila anda sudah curiga dengan jamur yang ada di kulit anda.

Kalau anda ingin mencari obat anti jamur, biasanya cari yang mengandung mikonazol, klotrimazol, tolnaftat. Dan pengobatan dapat dilakukan selama 1-2 mingguan. Apabila pengobatanitu tidak kunjung sembuh, kulit mulai memerah, membengkak, dan berdara, maka segeralah konsultasikan ke dokter kulit di toko-toko kaset yang terdekat dan bengkel-bengkel yang 24 jam...


mari perangi JAMUR...KAMPRET!!!

Titipan Daun Kering

Apa kabar mu daun kering...
tak terungkap tingkap di ruang mati dalam kering dan sunyi dering

Jangan mati, karena kau memang mati
Aku titip daun kering mengharap hati
berhari, berpekan, berbulan, bertahun...abadi

=================================
Sudah berapa lama kau disana...
kering sudah jasad, hanya harum tempat asal dan mendekati bau pijakan pendaki.
rindu kadung menyelemuti relung sunyi asu, alam meriak di tenang hati, tutup sejuta elegi.

Jadi nocturnal, menyesakkan, di tengah gerung-mengerung lantas menggonggong.

Salam untuk si cantik yang ku titipkan daun kering, semoga kau abadi, se abadi rasa ini.